Janda Bung Tomo di Usia 81 Tahun

. Nov 10, 2006
  • Agregar a Technorati
  • Agregar a Del.icio.us
  • Agregar a DiggIt!
  • Agregar a Yahoo!
  • Agregar a Google
  • Agregar a Meneame
  • Agregar a Furl
  • Agregar a Reddit
  • Agregar a Magnolia
  • Agregar a Blinklist
  • Agregar a Blogmarks

Terbitkan Surat dan Dokumen Pribadi Suaminya

Soetomo alias Bung Tomo, pahlawan nasional dari Surabaya itu, pernah berkelakar aneh pada istrinya, Sulistina Soetomo. Ia ingin istrinya menyusul mati tiga hari setelah kematiannya. Maksudnya, supaya Sulistina cukup waktu untuk membaca tulisan wartawan soal kematiannya, lalu menceritakan ulang kepadanya di akhirat. Ternyata, tepat tiga hari setelah kematian Bung Tomo saat beribadah haji pada 7 Oktober 1981 itu, bukan Sulistina yang mati tapi ibunya atau mertua Bung Tomo. Cerita ini ditulis oleh Sulistina dalam buku 'Bung Tomo, Suamiku' tahun 1995.
Kini, seperempat abad setelah kematian Bung Tomo, Sulistina justru masih segar-bugar. Nenek kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Oktober 1925, itu malah sedang menyusun buku berisi kumpulan surat-surat pribadi Bung Tomo kepada dirinya maupun tokoh-tokoh semasa Orde Lama dan Orde Baru. "Saya sendiri yang mengetik ulang di laptop ini," kata Sulistina kepada Persda di rumahnya, Kota Wisata, Jl Pesona Amsterdam I9/7, Cibubur, Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/11).
Kota Wisata adalah perumahan elit, tempat bermukimnya para bekas pejabat seperti Syarwan Hamid (Kassospol ABRI tahun 1996 dan Mendagri 1998-1999) sampai pejabat yang sedang berkuasa seperti juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng. Selain itu juga para artis macam Ratna Listy dari Madiun, Jawa Timur. "Waktu pembantunya (keluarga Sulistina) melahirkan, aku ikut nolong, lho. Makanya, anaknya diberi nama Listy. Coba tanya," kata Ratna Listy di Semarang melalui telepon seluler kepada Persda, kemarin.
Pendek kata, harga rumah di Kota Wisata pastilah mahal. Tapi, untuk membeli rumah di sana, keluarga Sulistina harus 'membayar' lebih mahal karena menjual rumah bersejarah Jl Besuki 27, Menteng, Jakarta Pusat. "Rumah di Jl Besuki itu diberikan pemerintah setelah Pak Tomo meninggal," kata Sulistina. Semula, keluarga Bung Tomo juga menempati rumah itu tapi sebagai rumah dinas. Ceritanya unik. Awalnya pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ingin menguasai tanah di sebelah barat Taman Surapati, Jakarta Pusat. Amerika berniat menukar-guling dengan tujuh rumah di Jakarta yang lokasinya terpencar. Salah satunya rumah di Menteng itu. Atas bisikan sekretaris jenderalnya, Bung Tomo sebagai Menteri Sosial Ad-interim (1955-1956) menyetujui tukar guling itu. Kompensasi lainnya, Bung Tomo bersama Sulistina diundang piknik ke Amerika.
Walhasil, tanah luas di dekat Taman Surapati itu jatuh ke tangan Amerika sampai kini, sedangkan rumah di Menteng sudah dilego ke pihak lain. Hasil penjualannya dibagi kepada empat anak Bung Tomo; Tin Sulistami (58), HM Bambang Sulistomo (56), Sri Sulistami (55) dan Ratna Sulistami (48). Semua putrinya, kecuali Tin Sulistami, menggunakan pembagian warisan itu untuk menambah pembelian rumah di Kota Wisata. Jadi, selain rumah yang ditempati Sulistina bersama Tin Sulistami, ada dua rumah lain di Kota Wisata yang dihuni keluarga dua putrinya.
Sedangkan Tin Sulistami justru menghibahkan warisannya buat kelompok Lia Eden. "Dan atas persetujuan ibunya dan segenap keluarganya, jadilah warisan Titing itu diserahkan kepada Tuhan melalui kami," demikian rilis kelompok Lia Eden di situsnya, liaeden.info. Titing adalah nama panggilan Tin Sulistami. Soal pilihan hidup kakaknya itu, Bambang Sulistomo mengatakan dia sudah dewasa untuk menentukan sikap sehingga tak perlu dicampuri. "Saya juga pernah diajak bergabung (dengan Lia Eden)," kata Bambang di tempat terpisah, sehari sebelumnya. Titing sendiri sedang mengenakan mukena ketika Persda ke rumahnya, kemarin. Orangnya ramah. Selain telaten memberi tahu soal rute pintas kembali ke Jakarta, Titing sempat pula menawari makan siang bersama. "Saya di sini ya sama Titing ini (dan sepasang pembantu, Red). Tapi dua anak saya lainnya kan dekat sini aja, jadi bisa sering bertemu," kata Sulistina. Ini sekaligus menjelaskan alasannya untuk tidak menempati rumahnya yang lain di kawasan paling elit di Kota Malang; Jalan Ijen.

Uang Pensiun Cuma Buat Bayar Listik dan Air
Sulistina Soetomo merasa gemas ketika suatu pagi melihat acara televisi, dua hari menjelang 10 November ini. Ada adegan dua murid ditanya seputar Hari Pahlawan tapi tak tahu ringkasan kisahnya, apalagi tokoh-tokohnya. "Bagaimana, sih, pelajaran sejarah sekarang?" tanya Sulistina kepada Persda.
Bagi dia, sejarah penting untuk menimbang, misalnya, bagaimana tabiat presiden A atau B agar sejarah buruk tak terulang. Menurutnya, lewat sejarah orang juga bisa membandingkan bahwa dulu para pejuang berpedoman pada 'what can I do for my country', apa yang bisa saya perbuat untuk negara. "Kalau sekarang kan, what can I get from my country (apa yang bisa saya gasak dari negara, Red)," katanya, terkekeh-kekeh.
Nah, bicara soal sejarah dan presiden ini, keluarga Bung Tomo memang punya kenangan buruk terhadap rezim Sukarno maupun Suharto. Menurut HM Bambang Sulistomo, satu-satunya lelaki dari empat anak Bung Tomo, bapaknya memang menjadi oposan Orde Lama maupun Orde Baru.
"Mungkin karena itu perannya tampak selalu dikurang-kurangi dalam tulisan sejarawan Indonesia soal pertempuran Surabaya. Tapi, kalau dari sarjana luar negeri, peran bapak saya lebih banyak," kata Bambang yang beristri dokter kaya tapi dia sendiri kemana-mana pilih naik sepeda motor ini.
Sikap oposan Bung Tomo membikin gentar Suharto sehingga dia ditahan tanpa peradilan di tahun 1978. Sulistina pun menyurati Suharto pada 6 Juli 1978. Ia menyebutnya cukup Pak Harto, tanpa embel-embel presiden. Surat itu dikirim setelah Bung Tomo hampir tiga bulan ditahan Kejaksaan Agung. Padahal, dia sudah diperiksa dalam perkara yang sama, hanya tiga hari di bulan November 1977 dan kasusnya dinyatakan selesai.
"Saya atas nama keluarga ingin menanyakan kepada Pak Harto sendiri bagaimanakah kelanjutan penahanan suami saya itu, sebab saya yakin bahwa dia sama sekali tidak bermaksud untuk merusak atau menghancurkan Negara saya sendiri," tulis Sulistina pada Suharto.
Salinan surat itu terdapat dalam draf buku yang kini sedang dia koreksi. Judulnya 'Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Bung Tomo'. "Tapi saya ingin diganti 'Romantisme Bung Tomo'. Kemudian di bawahnya foto Pak Tomo. Bawahnya lagi tulisan 'Pejuang Revolusi Kemerdekaan'," kata Sulistina, menunjuk draf buku setebal 300-an halaman itu.
Nenek ini memang perhatian pada detail kecil sekalipun. Ini dimungkinkan karena penglihatannya masih normal. "Kan sudah operasi katarak," katanya. Pada pada draf buku itu, dia juga melipat beberapa sudut halaman atau mencoret aksara dan kata yang keliru.
Ia ingin halaman buku itu disusun secara kronologis, mengacu pada urutan waktu penulisan surat atau dokumen. Setelah surat dari Sulistina untuk Suharto tadi, surat berikutnya dari Bung Tomo buat Yoga Soegama yang aslinya dalam bahasa Jawa. Identitas Soegama tak disebutkan, tapi lazim diketahui dia salah seorang begundal Suharto yang paling ditakuti karena menjabat Kepala Badan Koordinasi Intelejen Negara yang sekarang jadi Badan Intelijen Negara. Jenderal itu dikubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata, 23 April 2003 silam.
"Pada hari saya ditahan di antara Saudara2 'top' G 30.S itu, malamnya sebetulnya saya sudah mimpi, bahwa saya ini dibalas oleh orang2 alm Bung Karno. Karena saya ini dalam tahun '65 yang dianggap paling giat menggerakkan mahasiswa dan paling keras menyerang tokoh2 orde lama; misalnya, dr. Soebandrio yang saya beri nama Durno," tulis Bung Tomo kepada Soegama, 26 September 1978.
Surat itu ditulis di Rumah Sakit Gatot Subroto, padahal statusnya tahanan politik di penjara Nirbaya, Jakarta. Ia bisa keluar sementara karena berdalih sakit, tapi tetap dikawal ketat. "Jadi, kalau sekarang Pak Harto beralasan sakit, Pak Tomo dulu juga begitu supaya bisa ketemu saya dan anak-anak," kata Sulistina, terkekeh-kekeh lagi.
Hingga kini, lanjutnya, status Bung Tomo dalam kasus itu tak pernah direhabilitasi. "Tapi saya dikasih rumah di Jl Besuki itu," ujarnya. Selain rumah, ahli waris Bung Tomo juga mendapat dana pensiun dari pemerintah. Tapi, ketika ditanya nilainya dibanding dana pensiun untuk veteran biasa, Sulistina tak merinci. "Sama saja. Cuma bisa buat bayar listrik dan air," katanya. Tapi perlu ditambahkan, keluarga Bung Tomo bukan berarti sepenuhnya kesulitan secara ekonomi karena pada masa Orde Baru juga pernah mendapat konsesi pengelolaan hutan. Bung Tomo dan istrinya bisa keluar negeri pertama kali juga karena mau menerima konsesi hutan yang dikerjakan bersama cukong Korea itu. Ini diceritakan Sulistina dalam buku 'Bung Tomo, Suamiku' tahun 1955.
Lalu, akan dicetak berapa eksemplar bukunya kali ini? Sulistina mengaku belum tahu karena itu akan diurusi anak lelakinya, Bambang yang memimpin yayasan Bung Tomo. "Setelah buku ini, saya juga akan terbitkan sajak-sajak Bung Tomo," tuturnya.
Tapi kini, situasi sudah berubah. Sebagaimana dia keluhkan di atas, sejarah tidak lagi menarik buat orang kebanyakan. Dan, Sulistina tentu tak optimistis buku-bukunya akan menjadi best seller seperti 'Koordinasi dalam Republik Indonesia' karangan Bung Tomo yang terbit tahun 1953. Sulistina mengisahkan, hasil penjualan buku itu bisa untuk membeli tanah di kawasan paling elit Jl Ijen, Kota Malang. Rumah itu masih ada tapi tak mereka tempati. "Ya ada yang menjaga di sana," katanya. (yuli ahmada)

http://www.surya.co.id/naskah.php?id=19469&rid=3
http://www.surya.co.id/naskah.php?id=19549&rid=2

0 Comments: