"Apakah kira-kira Supriyadi memang punya *ngelmu*?" Pertanyaan iseng itu
saya ajukan kepada Ki Utomo Darmadi, adik tiri Supriyadi yang bermukim di
Jakarta, setahun lalu. Utomo, anak Raden Darmadi, Bupati Blitar, lantas
tersenyum. Dia kemudian menyebut nama Pangeran Diponegoro.
Katanya, di sini saya memparafrasekan, Diponegoro itu tentu punya *ngelmu*.
"Tapi nyatanya dia bisa ditangkap Belanda," kata Utomo. Saya memahami maksud
Utomo. Ia mungkin seorang yang percaya urusan magis tapi dalam hal kematian
Supriyadi, Utomo yakin kakaknya sudah dibantai tentara Jepang. Keyakinannya
konsisten sampai sekarang.
Utomo punya kisah lain waktu ikut rangkaian pertempuran 10 November 1945.
Itu berarti sembilan bulan setelah pemberontakan gagal Supriyadi di Blitar,
14 Februari 1945. Sebagai pemuda belasan tahun, Utomo bersama pasukannya
terdesak sampai Porong, Sidoarjo. Tapi, ketika pasukan NICA dan Belanda
merangsek ke Selatan, kawan-kawannya mendorongnya supaya bertempur di garda
depan.
"Kamu di depan, *kan* adik Supriyadi, bisa menghilang," cerita Utomo.
"Menghilang apanya, *wong* saya malah *ngompol,*" kenangnya, tertawa. Tapi
cerita Supriyadi bisa menghilang memang sedemikian mengakar.
Apalagi di Blitar, tempat para anggota Pembela Tanah Air (PETA) pertama kali
membangkang Jepang, enam bulan sebelum proklamasi kemerdekaan. Cerita soal
Supriyadi itu bisa muncul dalam obrolan warga dari tahun ke tahun. Jadinya
mirip dongeng.
Ada banyak versi pula. Mulai dari Supriyadi moksa di Gunung Kelud atau
Gunung Kawi. Ada yang percaya Supriyadi masih hidup dan tinggal di kawasan
pegunungan Blitar atau Malang Selatan. Kisah detail soal pemberontakan itu
malah tenggelam dan memang tidak menarik jadi bahan obrolan ringan.
Bagi generasi belakangan, kisah moksa Supriyadi itu malah jadi bahan *joke*.
"Supriyadi itu bisa menghilang tapi tak bisa kembali." Tapi untuk generasi
sepuh, cerita ihwal *daya linuwih* Supriyadi tetaplah memesona.
Bahkan, ada yang percaya ia akan muncul lagi ketika situasi zaman sudah
kelewat gawat. Ya, Supriyadi adalah Ratu Adil, mimpi khas mesianistik purba
yang terdapat dalam hampir semua bangsa.
Tapi bagaimanapun, Supriyadi adalah tokoh nyata, anak bangsa yang coba
melawan penindasan meski akhirnya gagal.














0 Comments:
Post a Comment