Ada Yahudi diaspora, ada Cina diaspora. Sekarang coba menyimak Jawa diaspora. Tentang Ranomi Kromowidjojo, perenang ayu yang beroleh medali emas di Olimpiade Beijing. Jeng Ranomi umur 18 tahun. Tanggal 20 Agustus nanti ulang tahun. Kulitnya condong ke putih. Bapaknya memang Jawa tapi dia tidak pernah belajar nglangi, renang, di Bengawan
Solo atau Laut Selatan. Dia lahir di Sauwerd, Belanda, seperti Kang Ruud Gulit. Bapaknya minggat ke negeri itu setelah Suriname merdeka tahun 1975. Lahir dari rahim nonik Londo, pantas saja Jeng Ranomi sedap dipandang mata. Sama-sama indonya, Cinta Laura lewat pokoknya.
Kisahnya kini memang menerbitkan bangga tapi di balik itu juga ada kenelangsaan nenek moyangnya. Bangsa Jawa berdiaspora ke Suriname bukan terutama terusir dari tanahnya tapi karena tipu muslihat. Banyak yang mau berangkat karena iming-iming gaji besar. Dan, lebih banyak lagi yang karena dipaksa. Mereka ditangkap dari pasar-pasar lalu dikapalkan. Sampai tujuan, bahkan ketika berlayar, tak sedikit yang mati karena banyak virus sedikit obat. Di Suriname, mereka dijadikan buruh perkebunan. Usai musim panen, Belanda bikin aneka hiburan dalam passer malem, termasuk legalisasi judi, sebagaimana kebiasaan di pabrik-pabrik gula di Jawa sampai kini.
Akibatnya, sedikit saja yang sanggup menabung buat ongkos pulang ke Jawa. Mereka tertahan, terpaksa tertahan, terpaksa menikmati situasi. Mereka ingin dipulangkan ketika Indonesia baru merdeka. Meskipun, mereka tahu tak punya lagi apa-apa di Jawa, kecuali kerinduan akan tanah leluhur. Tapi pemerintahan Sukarno terlalu sibuk mengurusi banyak soal dan kemudian membangun aneka proyek mercusuar.
Di gedung Arsip Nasional dekat Kemang, Jakarta Selatan, aku membaca dengan nelangsa surat asli menteri era Sukarno yang menolak keluar ongkos untuk pemulangan kaum Jawa yang terpaksa berdiaspora itu. Alasannya, tiada anggaran. Jeng Ranomi dan segenerasinya belum tentu dikasih tahu cerita ini oleh Mbah Kromowidjojo. Tapi, selamat deh, Jeng.














0 Comments:
Post a Comment