Kekuasaan bukan saja memabukkan tapi bahkan menggilakan. Aku tahu ini
dalil klasik tapi biarlah. Di Ponorogo, seorang calon bupati yang keok
3 tahun lalu, baru-baru ini kabur dari rumah sakit. Ia copoti jarum
infusnya lalu berlari tanpa baju, hanya pakai celana dalam putih. Ia
ingin mati. Kepada polisi, ia bilang ingin ditembak. Tapi tak lama
hatinya luluh. Ia lemas. Kegagalannya berkuasa diikuti kejaran utang
sekira Rp 3 miliar. Lima bus dan satu truknya ditarik pemberi kredit.
Usaha ekspor manusianya ke luar negeri gulung karpet. Istrinya bahkan
menggugat cerai dan menang. "Aku wis ora duwe apa-apa. Tembaken aku."
※※※
Di Malang, 2-3 tahun lalu ada guru SMA yang ngembat duit sekolah
sekira Rp 1 miliar. Duit itu habis buat ongkos rapat politisi Banteng
di Blitar yang ternyata juragan mereka di Jakarta tak merekomendasi si
guru. Ia menempatkan bupati pada derajat yang lebih tinggi dari guru.
※※※
Di Pasuruan, ada bekas perwira bebal tapi berarti juga bermental luar
biasa. Sekira 3-4 tahun lalu, dia ingin jadi wali kota Pasuruan tapi
gagal. Setahun kemudian, ingin jadi bupati Malang. Gagal juga. Tapi
tahun ini dia sukses jadi bupati Pasuruan.
※※※
Di Kediri, ada menantu wali kota ingin jadi bupati Kediri tahun lalu
tapi keok. Tahun ini, giliran ingin jadi wali kota, menggantikan
mertuanya. Ia menang di level tukang urus partai Banteng daerah tapi
penguasa Banteng di Jakarta punya segala. Rekomendasinya jatuh buat
juragan pabrik barang pemicu kanker, serangan jantung, impotensi dan
gangguan kehamilan dan janin. Kini, si menantu wali kota meloncat ke
partai kebangkitan kaum sarungan.
※※※
Kekuasan memang menggilakan. Dan, cuma mantan pewaras yang percaya
calon penguasa berjuang demi kalian. Tugas kaum pewarta selayaknya
memang terus menebar sangsi. Tapi kadang juga justru pelegitimasi yang
mumpuni.














0 Comments:
Post a Comment