Menanti Kebangkrutan Negeri

. Aug 7, 2008
  • Agregar a Technorati
  • Agregar a Del.icio.us
  • Agregar a DiggIt!
  • Agregar a Yahoo!
  • Agregar a Google
  • Agregar a Meneame
  • Agregar a Furl
  • Agregar a Reddit
  • Agregar a Magnolia
  • Agregar a Blinklist
  • Agregar a Blogmarks

Aulia Pohan, besan Presiden Bambang, diusut lagi di KPK, siang ini.
Bapak Annisa Pohan itu kok ya tak kunjung dikurung seperti bekas
Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah Cs. Aulia dan Burhan
adalah komplotan berkuasa yang lalim. Mereka obral duit rakyat Rp
31,5 miliar buat menyogjok para politisi Senayan demi kepentingan yang
seolah mulia tapi ujung-ujungnya menguntungkan mereka juga.
Persekutuan politisi dan para pengelola riba memang medeni,
menakutkan. Jadi ingat suasana peluncuran buku kumpulan karangan
Burhan di Gedung BI, Jakarta. Semua politisi elit datang, antara lain
Agung Laksono. Hiburannya Emha Ainun Nadjib yang kini membela Lapindo,
bersama Kiai Kanjeng. Ada juga penyanyi Bertha dan Mbah Surip. Pembawa
acaranya Nurul Arifin. Sajian makannya serba komplit dan mak nyus. Aku
datang untuk menanyai Emha soal jenderal yang setelah mati diketahui
menyimpan banyak senjata. Emha bicara banyak tapi tak sudi dikutip.
Istrinya, Novia Kolopaking, juga tak suka dikutip soal itu. Baiklah,
buku Burhan itu 'Menanti Kemakmuran Negeri'. Kata pengantarnya Jakob
Oetama yang juga datang malam itu. Banyak orang yang memuji Burhan dan
ditempel di sampul belakang buku 373 halaman ini. "Pandangannya kaya,
cara menuliskannya hidup...," puji Jakob. Komaruddin Hidayat menyebut
Burhan menggugah kesadaran dan tanggung jawab pembaca untuk
menyelamatkan dan membangun Indonesia. Budayawan Sunda Ajip Rosidi
memujinya terutama ya karena kesundaan Burhan. Dulu, membaca sepintas
isi buku ini, tak terbayang Burhan ternyata terlibat persekongkolan
jahat membangkrutkan negara. Burhan Cs lebih edan dibanding Ryan,
jagal kemayu dari Jombang? Entahlah.

0 Comments: