Ahlan Wa Sahlan Yaa Makrun

. Mar 19, 2009
0 Comments

Nama panggilan seringkali jauh lebih beken dibanding nama tulen. Bahkan, seringkali juga ia tak dikenal nama aslinya. Mirip pahlawan yang terpaksa dikubur tanpa diketahui namanya. Ini juga yang terjadi pada kebanyakan orang di pabrik kata-kata tempat saya banting tulang, peras keringat, kaki di kepala, kepala di kaki. Akrobat, dunk!

Alkisah, orang beken yang jarang diketahui nama aslinya itu adalah Makrun. Kadang, ia dipanggil teman-teman setengah berteriak seperti ini: Kruuuun...., Makrun Sanjayaaaaa......

Tapi maaf, bukan Makroen Sanjaya di foto dari Facebook-nya di sebelah itu yang saya maksud. Saya tak kenal dia, biar para senior di pabrik saya saja yang kenal. Tapi konon, Makrun dan Makroen dulu mirip. Kalau sekarang ya jauh banget.


Tak percaya? Coba perhatikan foto Makrun di samping ini. Mohon maaf, sebaiknya jangan klik foto itu karena berukuran besar. Ah, tapi nggak papa ding, atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab, bagian tertentu pada foto itu sudah saya breidel dengan Photoshop.

Makrun Sanjayaaaaa yang ini memang sedikit bertalian dengan Makroen Sanjaya (tanpa aaa panjang). Mereka pernah bersinggungan ketika Makroen tulen bertarung hidup di Surabaya.

Jadi ingat cerita soal Makroen kecil, sebagaimana dikenang sambil lalu oleh adik kelasnya di pesantren Lamongan. Katanya, Makroen dulu santri yang jago berpuisi. Salah satu karyanya berjudul korat-karit, semakna dengan morat-marit atau kocar-kacir. Entah apa isinya. Si adik kelasnya itu sudah tak ingat betul.

Lalu, siapa sebenarnya nama si Makrun yang ini? Konon, sudah banyak teman yang coba bertanya tapi selalu dijawab dengan senyuman ala makhluk paling seksi se-Surabaya.

Nah, barusan, saya coba bertanya nama aslinya. Dia jawab sendiri, "Makrun alias Sahlan." Aku tak percaya, makanya main ancam tak akan bayar sebelum dia mau kasih tunjuk kartu tanda penduduknya. O ya, lupa mengenalkan, Makrun adalah saudagar yang bergerak di bidang boga fried rice and noodle tapi harganya bangsa Rp 6.000-Rp 7.000-an. Makroen dulu dijamin pernah makan menu garapan Makrun.

Makrun akhirnya buka dompet, keluarkan KTP. Betul, nama aslinya Sahlan. Tidak ada Makrun-nya. Tapi karena kadung beken, jadilah dia sampai sekarang dipanggil Makrun. Ia dari Dusun Simpang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo. Tanggal lahirnya 01-01-1968 atau berumur 41 tahun. Tanggal dan bulan kelahirannya itu layak dicurigai dengan seksama sebagai imajinasi belaka karena mungkin dulu orangtuanya tak mencatat sehingga ketika mengurus KTP ya cari gampangnya saja. Betul begitu, Pak Makrun, eh Pak Sahlan?

Sahlan tentu berasal dari bahasa Arab. Kata itu sangat familiar karena frasa ini: ahlan wa sahlan yang seringkali dipahami keliru sebagai selamat datang. Sahlan berasal dari kata sahlun, mudah. Sedangkan ahlan wa sahlan berarti “Anda diterima dengan mudah sebagai keluarga kami.”

Dan, memang, Sahlan diterima begitu sahlun di pabrik tempat saya bekerja. Ia bebas berjualan di depan pabrik ketika malam. Bahkan, ia bebas keluar masuk kantor untuk mengantar fried rice and noodle. Nah, tahun ini pabrik tempat saya mengabdi katanya mau pindah ke bilangan Rungkut. Konon, Sahlan juga sudah meminta izin ke pengurus buruh agar dibolehkan hijrah untuk berjualan di kompleks pabrik baru.

Masalahnya, pabrik baru kelak akan dilengkapi kartu buruh yang sekaligus digunakan membuka dan menutup gembok pintu. Pak Sahlan, akankah sampeyan juga diberi ke-sahlun-an soal ini? Jika tidak, celakalah. Penggemarmu tak lagi bisa bermalas-malasan menunggu hantaran fried rice and noodle andalanmu sampai ke meja kerja. Mungkin nanti ada kantin di bagian dalam pabrik.

Entahlah, yang penting sudah ahlan wa sahlan yaa Makrun, Anda diterima dengan mudah sebagai keluarga kami.

Bakrie Diancam Santet

. Feb 26, 2009
1 Comments


Bakri... entenono santetku. Bakri, tunggulah santetku.
Tambahan infomasi pada Google Map di Wikimapia itu kira-kira mewakili kegeraman sekaligus ketidakberdayaan para korban lumpur untuk menuntut hak-haknya dengan cara normal. Hak hidup mereka sudah dikubur tetapi para pelakunya malah bebas berkeliaran. Bayangkan, tidak satu pun penjahat lingkungan yang dikurung sampai hari ini, dua tahun lebih...

Bakrie dan Sepur Kita

. Feb 8, 2009
2 Comments

KA Tujuan Malang-Blitar-Tulungagung-Kediri berangkat jam 05.30. Jika
KA penuh/tidak muat, Anda bisa ikut KA selanjutnya pada jam 08.30
(atau) 11.17. Jika tidak muat lagi Anda bisa mencari transportasi
lain. Kami atas nama PT Kereta Api (Persero) mengucapkan terima kasih.
Begitulah sekapur sirih dari tukang urus sepur di Stasiun
Tanggulangin, Sidoarjo. Ini stasiun kira-kira 2 Km dari danau lumpur
karya Lapindo. Kereta bisa jadi andalan buat bepergian dari Surabaya
ke selatan, arah Malang, karena bebas macet di dekat danau lumpur.
Naik bus bisa terjebak lebih dari 30 menit di situ. Cuma ya itu tadi,
kereta kita sangat Indonesia. Permaafan buat Bakrie juga sangat
Indonesia. Kita sudah terlalu sabar. Bakrie juga macam tukang urus
sepur. Bikin sebel banyak umat tapi malah bilang terima kasih. Susah
minta maaf.

Everything Accessories Products at ShopWiki.com

. Jan 4, 2009
1 Comments

Our monthsary is fast approaching and I’m planning to buy gifts to my girlfriend. First gift I want to give is a Shi tzu puppy and the other one is dress. But as I boy it is really hard to find the right dress that my girlfriend would love it. So, I start finding different dresses in malls and as well through Internet. As I surf in the Internet, I found this site called ShopWiki.com. A shop that almost everything is available from accessories to Mens Accessories. You can check their products through this link Shopping Directory.

Shopwiki doesn't only give out comprehensive ratings but also seeks out total customer satisfaction regardless whether they earn or not. This only means, that each shopper can find everything for sale on the web from expensive to the cheapest products. Wow! A true shopping haven for consumers like me.